Pada suatu malam, seorang pencuri menyelinap ke sebuah rumah yang dihuni oleh seorang nyonya tua, yang saat itu sedang duduk di samping meja. Sungguh beruntung sekali, pikir si pencuri. Tiba-tiba terdengar tangisan nyonya tua itu dengan tersedu-sedu, lalu mengambil sebuah gunting dan mengarahkan ke lehernya sendiri.
Dengan cepat, pencuri itu berada dihadapan nyonya tua. "Jangan nyonya… tidak boleh, bunuh diri itu dosa!" kata si pencuri. Tanpa sadar dia menerobos merampas gunting dari tangan nyonya tua itu.
"Biarkan aku mati...,". teriak nyonya tua, sehingga para tetangga mendengar dan ingin melihat apa yang terjadi. "Masalah apa yang terjadi? Bicarakan padaku, untuk apa memilih jalan pintas?" kata si pencuri. Tanpa sadar, para tetangga sudah kumpul untuk menyaksikan percakapan nyonya tua dan si pencuri.
Ternyata Nyonya tua itu baru saja ditinggalkan suaminya. Anak-anak dan menantunya tidak berbakti lalu meninggalkan nyonya tua itu sendirian. Ditambah lagi nyonya tua itu menderita sakit sehingga merasa hidupnya ini tidak berarti lagi.
Pencuri itu menasehati nyonya tua: “Nyonya, buat apa bunuh diri? Itu adalah perbuatan yang sangat dibenci Tuhan. Kita tidak boleh menentang takdir dengan membunuh diri kita sendiri. Cobalah untuk berdoa, meminta anak-anak dan menantu nyonya kembali bersama membahagiakan nyonya”
Setelah dinasehati panjang lebar, niat untuk bunuh diri tadi perlahan-lahan hilang. Setelah ramai sejenak, para tetangga mengalihkan perhatian pada si pencuri tadi.
"Terima kasih Tuan, tanpa pertolongan Anda, tragedi bunuh diri malam ini tentu akan terjadi", cetus salah satu tetangga.
"Terima kasih Tuan, tanpa pertolongan Anda, tragedi bunuh diri malam ini tentu akan terjadi", cetus salah satu tetangga.
"Kalian terlalu sungkan. Saya menolong nyonya ini adalah suatu reaksi spontan, sungguh tak pantas dipuji", jawab si pencuri.
"Tuan, siapa nama Anda?" Tanya tetangga.
"Nama saya Armin."
Setelah berbasa-basi sebentar, tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkat: "Oh Tuan Armin, lalu bagaimana Anda bisa sampai di sini dan menyelamatkan nyonya tua ini? Dari mana Anda masuk?". Sekarang Si maling menjadi pusat perhatian puluhan pasang mata.
"Celaka..! aku tak mungkin merahasiakannya lagi, lebih baik berterus terang saja", pikirnya. "Saya masuk ke sini dengan memanjat tembok. Semula saya berniat mencuri dan tak tahunya bertemu dengan seorang nyonya tua yang sedang putus asa. Niat mencuri saya hilang seketika begitu saya masuk ke dalam menyelamatkan si nyonya tua ini".
Kendati para tetangga terbengong mendengarkannya, namun mengingat ia telah menyelamatkan nyawa orang, maka mereka menasehatinya lalu membiarkannya pergi.
***
Manusia pada fitrahnya menginginkan kebaikan pada dirinya, namun beberapa faktor mencemari fitrah tersebut. Keadaan ekonomi lebih banyak mempengaruhi kebaikan itu, sehingga kebaikan yang kokoh itu tergoyahkan dengan keperluan perut. Seperti pencuri dalam cerita tersebut. Hati nuraninya tidak menginginkan orang lain terluka atas aksinya, bahkan dia menghentikan nyonya tua yang ingin bunuh diri akibat stress.
Mungkin si pencuri dalam kejadian tersebut mengambil sebuah hikmah dalam hidupnya. Orang yang banyak harta tidaklah jaminan untuk dapat membahagiakan hati. buktinya nyonya tua kaya yang rumahnya ingin dicuri itu nekat ingin mengakhiri hidupnya karena anak-anaknya tidak ada yang peduli lagi dengan dirinya. Si pencuri harusnya bersyukur karena masih menghargai nyawanya untuk terus mencari makan walaupun dengan caranya sendiri.
Terbukti bahwa seberapa jahatnya manusia, fitrahnya tetap memiliki hati nurani untuk menolong orang lain. Kita harus memberikan kesempatan.


0 komentar:
Posting Komentar